My Two Cents About Puasa dan Eid

I happened to be a curious person and ask a lot of questions. I also tend to express my thoughts even when nobody wants to hear it. So, this is where I’m going to put my two cents in. Most of my questions and thoughts are of no importance, though. I mean, if they were important, they would probably worth two grand instead of two cents. :p

Berhubung masih dalam suasana lebaran, kali ini pemikiran dan pertanyaan tidak penting saya ya tentu saja masih berhubungan dengan puasa dan lebaran. Dan karena saya sedang belajar menulis dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, tulisan kali ini akan menggunakan kedua-dua (broken) English dan Bahasa Indonesia.

1. This one is actually a question that pops out in my head every Ramadhan. Ever since I was young, I’ve been told that the saytans are chained up during the fasting month. It’s even in the hadith. So, if the saytans were chained up but we still could witness evil actions happening during Ramadhan, does it mean that humans are naturally evil?

2. It bugs me a lot when my non-Muslims friends perceive fasting only as no-eating-no-drinking thing. I mean, I don’t blame them. They don’t know any better. I blame the Muslims who have been misleading them. I think fasting is not only about starving yourself in order to sympathize with the poor. It’s not only about seeking nearness to Allah, and increase one’s devotions. It’s not only about controlling one’s desires of hunger or thirst . I mean, of course, they’re all the ultimate aims of fasting. But, if only people care enough to look any deeper, fasting also means learning to control yourselves from having something that you actually CAN have. When we were young, we’ve learned not to eat during fasting although we knew we could just reach the chocolate cake and dig in. I think, it should be applied in daily lives. If people (including me) care to learn to control ourselves that way, I imagine there wouldn’t be any corruptions, crimes, consumerism culture, and many other bad things. And the world will be enough for everybody.

3. Minal aidin wal faidzin bukan berarti maaf lahir dan batin, bukan pula berarti selamat hari raya. Banyak yang sudah mengetahuinya. Banyak juga yang sudah mencari asal usul kalimat tersebut, kebanyakan menemukan bahwa itu hanya penggalan doa, yang tidak membawa makna kalau berdiri sendiri. Tapi kenapa kita masih suka menyebutnya? Kebiasaan. Kalau begitu, apakah manusia sebodoh itu sampai tidak mampu membuang kebiasaan yang tidak jelas asal usulnya? Atau sang kebiasaan yang sedemikian hebatnya, sampai-sampai mampu mengalahkan manusia yang menciptakannya? Which brings me to my next question.

4. Kenapa kita berpuasa? Karena Allah? Karena ingin dapat pahala, atau takut dosa? Atau karena kebiasaan? Terbiasa sudah berpuasa dari kecil? Terbiasa melihat orang-orang berpuasa maka kita juga berpuasa? Terbiasa berpuasa setiap Ramadhan, seperti kita terbiasa bangun pagi lalu mandi? Tentu saja kita tidak lupa mengucap niat puasa setiap malam, tapi do we really mean it? Atau niat itu cuma diucapkan karena terbiasa? Tentu saja tidak, kan? Tapi mengapa ya, sekarang ini rasa-rasanya puasa itu seperti lifestyle saja? Misalnya, “ah nggak enak puasa di tempat A, nggak seru, nggak ramai.” atau, “Iya nih, pake jilbab seperti ini karena menghormati bulan Ramadhan.” atau, “Puasa ya puasa dong, tapi party tetep, kan dunia akhirat dua-dua nya harus jalan.” dan lain-lain. Jadi kalau begitu, mengapa berpuasa? Jika kita berpuasa untuk mendapat pahala, ampunan, dsb dari Tuhan, bukankah nggak masalah puasa di mana saja walaupun nggak enak-seru-ramai? Bukannya seharusnya kita konsisten dalam menjalankan perintah (misalnya menutup aurat) walaupun bukan di bulan puasa? Tuhan tidak hanya ada di bulan puasa, kan? Berpuasa tapi tetap party, misalnya, kan sama saja dengan rajin bikin pe-er tapi tetap main games. Kalau begitu, apa puasanya sama saja dengan kegiatan sehari-hari (seperti bikin pe-er)?

Ah, lama-lama saya jadi bingung sendiri karena kebanyakan nanya -__-“

Anyway, eid mubarak! Maaf lahir dan batin yaa..

Advertisements

About qezzia

lone wolf. clumsy pony. cuddly bunny. random squirrel. cheeky monkey. competitive cheetah. curious cat. View all posts by qezzia

2 responses to “My Two Cents About Puasa dan Eid

  • della

    For me, this post worth two grand :>
    been thinking about it too for this past three years and still haven’t got the answer.

    Tuhan tidak hanya ada di bulan puasa, kan? –>> suka banget kata-kata ini ^0^

    Kalo menurut saya sih, Ramadan itu harusnya jadi semacam ujian bagi kaum muslim. Gimana perilaku dia hingga sebelas bulan kemudian, sampai ketemu lagi sama Ramadan, itulah kualitas puasanya.
    IMHO, ya ^_^

    Great post, Qezzia. Stay hungry, stay foolish ;>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: